Pencegahan, Solusi Terbaik Hadapi Penyakit Pancaroba

Pergantian musim yang akan dihadapi Indonesia beberapa saat lagi seharusnya tidak disepelekan. Selain ancaman penyakit pernafasan, demam berdarah dengue (DBD), malaria dan diare masih terus menghantui. Tak ada tindakan yang lebih patut menghadapi masalah ini, selain pencegahan yang lebih baik.

Hal itu juga diakui oleh Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) Prof Dr Faried Anfasa Moeloek SpOG beberapa waktu lalu. Ia mengungkapkan, kemungkinan terjadinya kembali wabah penyakit menular pada pergantian musim di bulan September– Oktober tahun ini terbuka lebar. Untuk itu ia menganjurkan masyarakat lebih meningkatkan kewaspadaan mengenai hal ini. ”Jangan menganggap kuno sifat selalu menjaga kebersihan lingkungan, karena bila hal itu diremehkan dikhawatirkan DBD bisa menyerang lagi seperti tahun lalu,” urainya.

Ia juga memberikan penghargaan pada program Jumat Bersih yang pernah dilakukan beberapa saat lalu. Menurutnya cara-cara seperti itu, merupakan praktek pencegahan penyebaran penyakit yang cukup efektif. Ia juga menjelaskan ada dua macam cara untuk melakukan pencegahan menularnya DBD, yaitu efektivitas merespons laporan penyebaran penyakit tersebut dan penerapan peraturan yang jelas.

”Seperti di Singapura ada mekanisme denda dan ancaman hukuman penjara bagi keluarga atau individu yang pekarangannya ditemukan sarang nyamuk Aedes aegypti,” jelasnya.
Pola pencegahan yang utama, yaitu efektivitas kecepatan tenaga medis merespon laporan penyebaran penyakit, dinilai paling vital. Hal ini bila diperhatikan bisa mencegah keberlanjutan penularan dan perkembangbiakan bibit penyakit. ”Karena bila di satu wilayah ada satu kasus penyakit menular, biasanya akan diikuti kasus berikutnya,” tambah Faried lagi. Untuk itu ia menyarankan agar memutus rantai penularan penyakit secepatnya. Karena itulah maka kecepatan merespon informasi penularan penyakit diperlukan. Namun, satu hal yang patut disayangkan di Indonesia prosedur semacam ini belum diberlakukan.
Sedangkan prosedur pengasapan, yang hingga kini dianggap sebagai jurus pamungkas untuk membasmi penularan penyakit ini, juga sampai saat ini msih dianggap kurang efektif memberantas pengembangbiakan nyamuk, karena langkah tersebut ternyata hanya membunuh nyamuk dewasa, sedangkan telur-telurnya masih terus menetas.
Selain itu pengasapan ternyata kadang dimanipulasi. ”Kadang ada pihak yang nakal, mengganti pestisida pembunuh nyamuk dengan solar untuk menimbulkan efek asap,” imbuh Faried lagi. Oleh karena itu, metode pencegahan klasik seperti program 3M (Menguras, Menutup dan Mengubur) dianggap metode paling efektif untuk pencegahan penularan penyakit.
Bukan Siklus Lima Tahun
Sementara itu Direktur Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan (Depkes) Umar Fahmi Ahmad, juga menyarankan masyarakat tidak terlena dengan pandangan mengenai wabah DBD merupakan siklus lima tahunan saja. ”Karena semenjak tahun 1998 sudah tidak berlaku lagi siklus lima tahunan. Ini sudah fenomena tahunan,” ungkapnya.
Ia juga mengharapkan kebersihan lingkungan bisa terus dijaga melalui kesadaran individu. Karena menurutnya masyarakat tidak bisa terus-terusan menggantungkan harapan hanya kepada pemerintah untuk menjaga kebersihan lingkungan. ”Meskipun kini sudah ada juru pemantau jentik nyamuk di pemerintah,” tegasnya.
Sebab menurutnya kinerja juru pemantau jentik ini tetap ada batasnya. Sedangkan kemungkinan penyebaran jentik di tiap daerah yang mungkin lolos dari pengamatan masih sangat besar. ”Apalagi di kawasan luar Jakarta, peran pemantau jentik ini hampir tidak dianggap ada,” tambahnya. Untuk itu diharapkan partisipasi masyarakat untuk meminimalisasi jumlah genangan air untuk mengurangi daerah penyebaran wabah. Sebab bila hal itu diabaikan, bisa jadi ledakan serangan penularan penyakit DBD bisa lebih meningkat dari tahun lalu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s